Cermin :
Batas-batas yang lentur :
Rendi adalah seorang mahasiswa yang aktif berorganisasi. Waktunya banyak dihabiskan dengan bertemu banyak orang, selain kegiatan wajibnya belajar, kuliah dan beribadah dalam keyakinan yang ia anut.
Ada lagi yang membuatnya semakin tidak ada dirumah di akhir pekan, ternyata Rendi juga penggemar “oprek” otomotif. Itu lho, utak-atik mesin motor dan mobil.
Rendi punya sedan Morris tua, pemberian dari om-nya di Bandung. Duh…kalau sudah otak-atik mesin mobilnya, hanya satu yang menghentikannya, yaitu : suara adzan maghrib yang keras (itupun harus dibantu dilempar sandal oleh Bapaknya).
Apalagi sebagai anak kost, tentu hanya nasihat-nasihat orang tua melalui telephone yang dia terima, selebihnya dia bebas melakukan apa saja.
Secara keseluruhan, Rendi anak baik, kreatif, tidak merugikan tetangga dan teman, sehingga tidak ada tetangganya yang memberikan predikat “jelek” padanya.
Sebagai “jomblo” selama ini tidak punya masalah yang serius, umurnya baru 20 tahun. Namun akhirnya dia punya keinginan untuk mencoba seperti teman-teman yang lain yang punya pacar.
“ Saya ini betul-betul butuh punya pacar, atau sekedar ikut “trend” ya….?” begitu Rendi bergumam.
“Ah, katanya teman-teman “ta’aruf” itu penting..”
“Apa, ya…bedanya ta’aruf dengan pacaran ?”
“Ya..jelas…kalo ta’aruf gak boleh gandeng-gandengan, hik..hikk” Rendi terkekeh sendiri.
Melalui seorang temannya, yang berbakat jadi konsultan “percomblangan”, akhirnya…..Rendi berhasil juga punya “gebetan”. Rendi yang sehari-hari sering bergaul dengan olie, ban dan stir mobil; atau kalaupun bergaul dengan teman wanita di organisasi, tidak se”necis” makhluk perempuan yang ada di hadapannya.
“Alaaamaaak…..mimpipun belum pernah aku” Rendi menyadari ketololannya selama ini, ternyata ada yang lebih atraktif dibanding mobil mini-morris nya itu.
Memang sih, untuk ukuran seorang mahasiswi, si cewek terlalu anggun. Baik dari pakaiannya, rambutnya dan terlebih perilaku pribadinya.
Buset…deh…sudah seperti ada “standar operasional prosedur”nya. Semuanya serba baku. Pokoknya anggun banget….tanpa cacat (ini menurut Rendi looh).
Selidik punya selidik, ternyata si comblang, berkonspirasi dengan Bapaknya Rendi, yang mengenalkan dengan putri temannya papa Rendi waktu kuliah dulu.
Bedanya selesai kuliah, Papa Rendi bekerja didaerah alias pulang kampung, sedangkan temannya mengambil MBA, dan sekarang punya perusahaan sendiri.
“Pantesan….semuanya serba pake program” desah Rendi.
Yang paling mengherankan Rendi, waktu mau jadian, separuh hari Rendi mencari kata-kata yang pas, mengatur strategi dan lokasi yang tepat. Akhirnya Rendi memutuskan untuk “nembak” didepan mini-morris nya, dengan hidung belepotan jelaga-minyak, hanya kata-kata ini yang keluar :
“kaa..kamu mau gak, jadian sama aku…” bah..gak ada romantis-romantisnya fikir Rendi.
Eh…dia cuma memiringkan kepala :
“OK….dengan masa percobaan 3 bulan”.
“Yaah…..kayak ngelamar kerjaan, gini….?” keluh Rendi.
Maunya Rendi, kalau punya pacar ya udah, paling ketemu seminggu atau 2 minggu sekali, selain itu biar kita urus sendiri-sendiri. Toh kita belum nikah, saya punya kegiatan yang seabrek dan kamu juga tak kurang-kurang kegiatannya.
Ternyata tidak, si cewek mau tau, apa kegiatannya, kemana, dimana…?
Kalau janji jam 05.00 sore datang, jam 04.00 sudah dikonfirmasi….?
Paling Rendi gak suka, cara berpakaianpun sudah mulai diatur-atur, baiknya begini dan begitu. Bahkan sang cewekpun tak segan menyusul ke bengkel tempat mangkalnya Rendi di akhir pekan.
Menjelang masa percobaan 3 bulan habis, Rendi mulai gusar….mau diterusin apa nggak. Kalau diterusin, koq kebebasannya banyak terganggu. Tapi kalau tidak, Rendi takut mengecewakan orang tuanya. Lagipula gak ada ruginya hidup berdampingan dengan makhluk secantik dan sesempurna itu.
Begitulah daripada bingung-bingung berkepanjangan Rendi meluangkan waktu menelepon bapaknya dikampung.
Begini kira-kira nasihat papa Rendi kepada anaknya :
“Semua orang itu punya batasan-pribadi….ada yang menyebutnya dengan privasi”
“Masing-masing orang tidak sama luas batasan-pribadi (boundary)nya.”
“Ada yang luas, seperti Rendi, yang mau serba tidak diatur, dan tak perlu mengkomunikasikannya dengan orang lain”
“Ada yang sempit, dalam arti dia merasa sudah jadi pacar atau pasangannya, sehingga
dia berhak tau dong, kamu ada dimana, sedang apa, dengan siapa, dan kapan kamu pulang kembali”
“Lantas gimana dong, nyamain boundary tadi…” sela Rendi.
“Tak perlu disama-samakan, karena pada dasarnya manusia itu unik, jadi tidak perlu sama”. “Yang penting respek, saling menghargai, tidak ada kebohongan, semuanya dikomunikasikan dengan baik”.
Akhirnya Rendi, selama seminggu ini, selalu mengajak sang kekasih ketempat-tempat yang dikunjungi dan nongkrong selama ini.
Ini tempat nongkrong di bengkel, itu teman-teman cewek dan cowok di organisasi yang suka ngirim-ngirim SMS kemarin.
Itu teman cewekku yang suka kupinjami buku catatan kuliah. Itu mbok-mbok yang suka menyapa ramah saat Rendi masuk gang.
Dan yang paling gila, Rendi ngajak sang cewek “tune-up” mobil seharian, cuma makan nasi bungkus dengan muka cemong.
Selama seminggu ini pula, sang cewek merasa ada nuansa lain, dalam diri dan lingkungannya. Dalam keluarganya yang serba teratur, semua serba terprogram, menjelang tidur selalu dievaluasi apa saja yang telah dikerjakan hari ini.
Koq ada perasaan lain, yang menyusup…tentang komunitas…, tentang keramah-tamahan, sesekali tak terlalu ketat dengan waktu, atau sesekali memacu adrenalin dengan memacu roda-roda kendaraan di jalan raya. Ada sesuatu yang baru….ada sesuatu yang lain.
*********************************
Rendi masih tidur, ketika pintu kost-annya di ketok. Sambil mengucek-ucek matanya Rendi tersenyum, menerima tamu dengan pakain yang lebih “sporty”. Dan yang paling mengejutkan lagi, Rendi dituntun ke halaman depan dan dengan fasihnyanya
sang cewek bercerita :
“ini mobil Mercedes – A 190 gue yang baru…jarang saya pake sih sebelumnya”
“karena bergaul sama elo…dari pada gue bulan-bulanan mikirin elo….mendingan gue ikutan ngoprek juga….”
“Cakep gak, knalpot gue ganti mega-phone, velg-racing 19 inch, shock-breaker Monroe, gue minta ceper abis, cuma 10 Cm lho dari tanah…!
“Stir mo-mo….dan jok gue ganti recaro….!”
Rendi hanya bisa bengong, melihat perubahan sedrastis ini. Dia hanya ingat nasihat bokapnya yang ternyata manjur .
“Yang penting respek, saling menghargai, tidak ada kebohongan, semuanya dikomunikasikan dengan baik”.
Salam,
Komar Kurniadi